Posted by: Wildan Maulana | February 23, 2009

Lautan Indonesia Kaya Mikroba Pemakan Minyak

Lautan Indonesia dilalui jalur kapal tanker internasional yang seringkali mencemari lingkungan, di sisi lain lautan Indonesia juga kaya mikroba pemakan minya yang mampu meremediasi kawasan terkontaminasi bahan bakar itu.

“Mikroba ini antara lain alcanivorax, rhododactar, dan lain-lain yang perlu diberdayakan untuk mengurangi pencemaran laut,” kata Peneliti Bioteknologi LIPI, Ahmad Thontowi MSi, yang berhasil meraih hibah dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) untuk risetnya, di Jakarta, Jumat.

Senyawa yang terdapat pada perairan laut yang terkontaminasi minyak seperti Poliaromatik Hidrokarbon (PAH), ujarnya, bersifat toksit atau beracun, mutagen atau penyebab penyakit, dan seringkali bersifat karsinogen atau penyebab kanker, sehingga tak bisa dibiarkan.

“Selama ini lautan yang kontaminasi tumpahan minyak baru bisa benar-benar bersih setelah satu-dua tahun kejadian tumpahan minyak, contohnya bocornya tanker di Spanyol,” katanya.

Cemaran minyak di laut bisa diatasi secara fisik dengan mengambili minyak dari lingkungan, seperti yang dilakukan nelayan petambak yang kemudian menjual kembali tumpahan minyak tersebut.

Selain itu juga dengan menggunakan cara kimia dengan menambahkan bahan kimia tertentu ke lingkungan laut untuk mengikat tumpahan minyak, ujarnya, namun cara ini tidak ramah lingkungan.

“Sedangkan bioremediasi atau teknik penanggulangan tumpahan minyak dengan menggunakan mikroba, masih belum dilakukan di Indonesia, padahal lautan Indonesia memiliki banyak jenis mikroba pemakan minyak,” katanya.

Saat ini pihaknya masih dalam taraf melakukan isolasi sejumlah mikroba dan mencari karakternya secara genetik, serta melihat bagaimana secara molekuler, kemampuan mikroba mendegradasi minyak.

Ia juga menyebutkan ada dua teknik bioremediasi terhadap cemaran minyak, yakni dengan bio-augmentasi atau menebar bakteri pemakan minyak ke lingkungan tercemar minyak dan bio-stimulasi atau memberi mineral untuk merangsang pertumbuhan mikroba di daerah tercemar.

“Saya lebih berat ke teknik bio-stimulasi karena jika menggunakan teknik bio-augmentasi belum tentu bakteri baru tersebut cocok di kawasan itu,” katanya. ant/ism

Sumber : Republika (20 Februari 2009)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: